Pambudidaya mrih bisa memayu hayuning bawana.Pambudidaya berasal dari kata mbudidaya (bhs. jawa)yang berarti mengusahakan, merawat, memberdayakan dan membuat semakin berkembang. Memayu hayuning bawana berarti mencintai, mengelola, alam semesta seluruh ciptaan. Dengan bahasa sederhana: nresnani, ngopeni lan nggemateni!Mugi Gusti Hangijabahi!
Sabtu, 21 Februari 2015
Rabu, 26 November 2014
Materi Religiositas Kelas XII Bab 5: Firman Tuhan menciptakan Keadilan dalam Masyarakat
Materi Pokok 5
FIRMAN TUHAN MEWUJUDKAN KEADILAN DALAM MASYARAKAT
A. Kompetensi Dasar
Memahami bahwa firman
Tuhan mewujudkan keadilan dalam masyarakat.
B. Indikator Pencapaian
Hasil Belajar
Pada akhir pembelajaran peserta
didik-siswi dapat:
1. Mendeskripsikan pengertian keadilan.
2. Menemukan bentuk-bentuk
ketidakadilan yang terjadi dalam masyarakat.
3. Menjelaskan bahwa
mendapatkan perlakuan yang adil merupakan hak asasi manusia.
4. Mendeskripsikan
usaha-usaha untuk menegakkan keadilan.
5. Menjelaskan firman Tuhan
yang ditemukan tentang keadilan.
6. Mengadakan wawancara
dengan masyarakat sekitar yang bertema keadilan.
7. Merefleksikan hasil
wawancara secara tertulis.
C. Landasan Pemikiran
Banyak masalah yang memprihatinkan terjadi dalam masyarakat di negara yang
sedang gencar-gencarnya melancarkan program pembangunan, tetapi tak ada masalah
yang lebih memprihatinkan dan menuntut pemecahan segera daripada masalah
ketidakadilan sosial. Melebarnya jurang antara kaya dan miskin, bertambahnya
jumlah pengangguran, rendahnya upah buruh, dominansi pribadi yang memegang
kekuasaan ekonomi atau politik, pemutlakan hak milik pribadi yang membiarkan segelintir
orang memiliki perusahaan-perusahaan raksasa dan menguasai hidup banyak orang,
merupakan contoh wajah ketidakadilan yang sedang melanda bangsa kita.
Kondisi ini memang sangat memprihatinkan. Banyak orang menderita karena
hak-haknya dirampas, tetapi tidak dapat berbuat apa-apa. Orang-orang yang
bertindak tidak adil dan menyengsarakan orang lain bersikap bahwa di luar
dirinya tidak terjadi apa-apa. Mereka merasa tidak bersalah atau berdosa.
Bahkan, mereka semakin merajalela dalam kerakusan dan ketamakannya dengan
berbuat tidak adil terhadap sesamanya yang lemah. Sebaliknya, betapa sulit
membangun keadilan dalam masyarakat kita. Keadilan selalu terkait erat dengan
masalah kepastian hukum. Masalah kepastian hukum ini rupanya masih harus
diperjuangkan dengan gigih, karena sudah begitu lama hukum bukan milik
masyarakat tetapi milik orang yang mempunyai kekuatan, kekuasaan, dan uang.
Di sini, keadilan dapat dimengerti sebagai keadilan perorangan dan keadilan
sosial. Keadilan perorangan lebih menyangkut orang perorangan, dan akibatnya
tidak terlalu rumit atau pelik. Misalnya, orang membeli sebuah barang seharga
Rp 15.000,- maka dia berhak untuk mendapatkan barang itu sesuai dengan
harganya, murid yang telah menempuh ujian berhak mendapatkan nilai seturut
kemampuannya. Sedangkan, keadilan sosial lebih menyangkut masyarakat luas dan
bersifat struktural. Di sini, jika terjadi ketidakadilan, maka akibatnya akan
berlipat ganda; jika terjadi ketidakadilan yang melibatkan orang dalam, maka
orang itu dapat menunjang ketidakadilan dalam masyarakat. Ketidakadilan
sosial itu akan merembes dan mempe-ngaruhi segala aspek kehidupan.
Jika hal ini terjadi, pembangunan ekonomi, sosial, dan politik yang
pernah dilakukan tidak banyak menolong kaum kecil atau lemah. Proyek
pembangunan yang ditujukan untuk kaum kecil atau lemah hanya untuk mencari
popularitas pejabat atau orang-orang tertentu, bahkan mempersempit ruang gerak
dan kemerdekaan kaum kecil atau lemah sehingga menjadi kelompok yang
tersingkirkan.
Keadilan dapat
dimengerti melalui beberapa pendapat, antara lain:
a.
Aristoteles
Keadilan
dibedakan sebagai keadilan komutatif dan distributif. Keadilan komutatif adalah
keadilan yang diberikan kepada setiap orang sama banyaknya, tanpa mengingat
jasa-jasa perorangan. Keadilan ini biasanya berlaku dalam perjanjian hukum
dagang, dan sebagainya. Keadilan distributif adalah keadilan yang
diberikan kepada setiap orang menurut jasanya masing-masing atau pembagian
menurut haknya masing-masing. Di sini, keadilan tidak menuntut pembagian yang
sama untuk setiap orang, tetapi berdasarkan perbandingan.
b.
Plato
Keadilan dibedakan sebagai
keadilan komutatif, distributif, dan legal atau moral. Definisi keadilan
komutatif dan distributif sama dengan pendapat Aristoteles. Keadilan legal atau
moral adalah penyesuaian atau pemberian tempat dalam masyarakat, sesuai dengan
kemampuannya, dan cocok dengan pribadi bersangkutan di hadapan hukum atau
peraturan yang berlaku.
c.
Religiositas
Keadilan
adalah sikap dan cara Tuhan berada dan bertindak untuk menyampaikan kedamaian
dan kesejahteraan bagi manusia secara keseluruhan. Keadilan yang tercurah dari
kemurahan hati Tuhan sendiri, yang menuntut setiap orang untuk meneruskan apa
yang benar dan adil bagi semua orang di muka bumi. Ketika keadilan terjadi di
muka bumi, pastilah tumbuh rasa hormat dan kesediaan menjaga ciptaan, alam, dan
seluruh makhluk di muka bumi, demi keutuhan ciptaan itu sendiri.
Banyak
orang atau kelompok berjuang melawan ketidakadilan dan mencoba mengangkat
derajat orang kecil. Contoh orang yang memperjuangkan hal ini, antara lain: Y.B.
Mangunwijaya Pr, Ig.Sandyawan Sumardi SJ, Dewi Rosa Damayanti, Karlina Leksono
Supelli, Wardah Hafidz, Ibu Teresa, Nelson.
Mandela,
Marthin Luther King, dan sebagainya. Contoh kelompok atau organsiasi yang
berkecimpung dalam bidang ini, antara lain: Komnas HAM, UPC (Urban Poor
Consortium), Yayasan Sosial Soegijapranata, CRE (Commision for Racial
Equality), Komisi bagi kesamaan ras yang didirikan oleh pemerintah Inggris,
Badan-Badan PBB seperti UNHCR, UMCEF, WHO, dan sebagainya.
Berbagai
usaha yang dapat dilakukan untuk mengatasi ketidakadilan dan mengangkat derajat
'orang kecil', antara lain:
1.
Penyadaran kepada 'orang kecil' bahwa ketidakadilan yang
mereka alami bukanlah nasib yang harus diterima begitu saja, tetapi dapat
diubah asalkan mereka mau memperjuangkan keadilan dan tidak mau menerima ketidakadilan.
Tidak mungkin menghapus ketidakadilan tanpa perjuangan. Tujuan perjuangan ini
adalah menciptakan suatu masyarakat yang lebih adil, seimbang, dan manusiawi,
di mana 'orang kecil' ikut menentukan semua keputusan yang menyangkut nasib
mereka dan seluruh masyarakat. Di sini, tujuan perjuangan bukan untuk menghancurkan
lawan, tetapi menciptakan keseimbangan dan keselarasan yang adil.
2.
Penyadaran kepada penguasa bahwa mereka harus melepaskan
beberapa kepentingannya demi terciptanya keadilan masyarakat. Sikap ini akan lebih
berhasil bila didukung oleh perjuangan 'orang miskin', tertindas, kelas bawah,
dan sebagainya yang ikut mengambil bagian dalam setiap keputusan. Perjuangan
demi keadilan tentu menimbulkan konflik
kepentingan bagi mereka. Di sini, tujuan perjuangan bukan membenci dan menghapus golongan atas, tetapi menciptakan keseimbangan dan keselarasan yang adil.
kepentingan bagi mereka. Di sini, tujuan perjuangan bukan membenci dan menghapus golongan atas, tetapi menciptakan keseimbangan dan keselarasan yang adil.
3.
Memperjuangkan keadilan dan kesetiakawanan tanpa
kekerasan. Dalam sejarah, ajaran cinta kasih sungguh memberi inspirasi banyak
orang untuk memilih dan bertindak tanpa kekerasan melawan ketidakadilan. Selain
itu, orang diajak untuk mengembangkan semangat kesetiakawanan dan kerja sama di
antara semua pihak, meski berbeda kepentingannya. Misal-nya, hubungan pengusaha
dan buruh akan berjalan dengan selaras, tanpa ada kecurigaan, kalau di antara
keduanya terjadi sharing atas kondisi perusahaan, baik dalam bentuk
transparansi kepemilikan modal maupun kesepakatan sistem penggajian.
4.
Memberdayakan kemampuan mereka melalui berbagai kegiatan,
misal-nya membuat usaha home industrj, simpan pinjam, pemberian modal,kursus
dan latihan kepemimpinan, proses penyadaran terus menerus.
5.
Membuat kelompok atau paguyuban sebagai wadah dalam
mengatasi persoalan-persoalan yang menimpa 'orang kecil' dan sekaligus menjadi forum
tukar-menukar informasi.
Lewat firman-Nya Tuhan menghendaki manusia memperjuangkan keadilan bagi
semua orang. Semua orang dipanggil untuk memberikan teladan hidup kepada dunia,
yaitu mencintai dan menghargai sesama, khususnya orang kecil, miskin,
tertindas, menderita, terabaikan, tersisihkan, dan disingkir-kan masyarakat.
Sumbangan yang diberikan untuk terciptanya keadilan adalah kehidupannya
sehari-hari selalu memancarkan kasih Tuhan, baik dalam keluarga, sekolah,
maupun masyarakat, melalui perkataan dan perbuatan. Meskipun kenyataannya,
orang selalu dikuasai oleh pamrih pribadi dan kelompok, egoisme, keserakahan,
ketidakjujuran, kesombongan, kekayaan, kekuasaan, kemapanan, dan sebagainya.
Berikut ini disajikan beberapa pandangan dari
berbagai agama dan kepercayaan tentang firman Tuhan mewujudkan keadilan dalam
masyarakat. Anda juga dapat membaca sumber-sumber lain yang sesuai
dengan tema untuk memperluas wawasan dan pengetahuan Anda.
1.
Agama Islam
Keadilan
adalah syarat bagi terciptanya kesempurnaan pribadi, standar kesejahteraan
masyarakat, dan sekaligus jalan terdekat menuju kebahagiaan ukhrawi. Keadilan
harus ditegakkan dimanapun, kapanpun, dan terhadap siapapun.
2.
Agama Kristen
Tuhan
menghendaki agar manusia menaati hukum dan
menegakkan keadilan, dengan cara membela mereka yang dirampas
haknya,tidak menindas dan berlaku keras terhadap orang asing, yatim dan janda
serta tidak menumpahkan darah orang yang tidak bersalah
3.
Agama Katolik
Keadilan Allah dalam Perjanjian Lama sering
disamakan dengan kesetiaan dan cinta-Nya yang teguh tidak goyah, dan sangat
erat berhubungan dengan belas kasih-Nya. Menurut tradisi kristiani, keadilan,
kebijaksanaan, keugaharian, dan keberanian disebut keutamaan-keutamaan dasar
bagi tingkah laku manusia yang benar.
4.
Agama Hindu
Bagi orang-orang yang tinggi ilmunya, sesungguhnya
ia tidak sayang merelakan nyawanya apalagi hartanya untuk kepentingan umum
karena sesungguhnya ia mengetahui maut pasti datang. Karena itu berkorban untuk
kepentingan umum adalah lebih mulia daripada tidak. Dalam ajaran Karma Yoga
yang diajarkan menurut Weda, ditekankan pentingnya bagi setiap manusia untuk
tawakal, sabar menerima kenyataan kehidupan ini, dengan berusaha memberi arti
kehidupan ini sebaik-baiknya, dengan bekerja, dan mengabdi. Tuhan Yang Maha
Kuasa memberi rahmat kepada kita, namun hendaknya manusia tidak tidur
(bermalas-malas) dan selalu mengendalikan kata-kata yang tak berguna. Hendaknya
selalu aktif dan bekerja. Tuhan menghendaki agar umat-Nya menata tata kehidupan
berkeadilan sosial dengan mengamalkan ajaran agamanya.
5.
Agama Buddha
Untuk
mengamalkan bagi semua, sang Buddha mengajarkan agar kita mengembangkan sifat-sifat
Brahma Vihara, yaitu:
1.
Metta (Cinta
Kasih). Sikap batin yang mengharapkan kesejahteraan dan kebahagiaan semua makhluk, tanpa membedakan sedikit pun.
2.
Karuna (Welas
Asih): Sikap batin yang timbul apabila melihat penderitaan makhluk lain dan
berhasrat untuk menghilangkan atau meringankan penderitaan
itu.
3.
Mudita
(Empati): Suatu bentuk perasaan yang menempatkan diri kita seperti keadaan orang lain; ikut merasakan
penderitaan ataupun kebahagiaan orang lain.
4.
Upekha
(Keseimbangan Batin): Sikap batin yang seimbang dalam segala keadaan oleh
karena menyadari bahwa setiap makhluk hidup memetik hasil dari perbuatannya sendiri.
Pengembangan
sikap-sikap ini didasarkan atas keyakinan dan pengakuan bahwa manusia itu sama
derajat dan martabat, sama hak dan kewajibannya tanpa membedakan suku,
keturunan, warna kulit, jenis kelamin, kedudukan sosial, agama dan kepercayaan.
Di lingkungan sekolah, peserta
didik-siswi melihat dan mengalami persoalan yang berhubungan dengan
ketidakadilan. Tata tertib sekolah yang seharusnya berlaku untuk semua warga
sekolah, yaitu kepala sekolah, guru, dan karyawan, ternyata hanya berlaku untuk
peserta didik-siswi. Misalnya, sekolah ada peraturan bahwa peserta didik tidak
boleh merokok, terlambat, membolos, dan sebagainya bagi semua warga sekolah, yang
terjadi adalah kalau peserta didik-siswi melanggar aturan pasti mendapat
hukuman, sedangkan kepala sekolah, guru, dan karyawan melanggar aturan
dibiarkan dan tidak mendapat sanksi.
Melalui materi pokok ini, peserta didik-siswi diajak untuk menyadari pentingnya
menegakkan dan memperjuangkan keadilan, dan melalui firmannya tuhan menghendaki agar dirinya terlibat dalam
mewujudkan keadilan
Latihan
I. Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan uraian yang jelas !
- Jelaskan pengertian keadilan!
- Sebutkan bentuk-bentuk ketidakadilan yang
terjadi dalam masyarakat!
- Jelaskan bahwa mendapatkan perlakuan yang
adil merupakan hak asasi manusia!
- Sebutkan
usaha-usaha untuk menegakkan keadilan!
- Jelaskan
maksud firman Tuhan tentang keadilan!
- Jelaskan
pengertian keadilan menurut agama Islam !
- Sebutkan
4 sifat-sifat yang dikembangkan Brahma Vihara dalam mewujudkan keadilan !
- Jelas
arti keadilan menurut religiositas !
- Sebutkan
keutamaan-keutamaan dasar bagi tingkah laku manusia yang benar menurut
agama Katolik.
- Bagaimana
penilaian atau tanggapan Anda terhadap wawancara dengan masyarakat
sekitar sekolah?
Materi Religiositas Kelas XII Bab 4: Iman Membarui Hidup Sosial
Materi Pokok 4
IMAN MEMBARUI HIDUP
SOSIAL
Memahami bahwa iman membarui hidup sosial
B. Indikator Pencapaian Hasil Belajar
Pada akhir pembelajaran peserta
didik-siswi dapat:
1.
Mendeskripsikan situasi hidup sosial yang memprihatinkan.
2.
Mengidentifikasi contoh usaha-usaha pembaruan hidup
sosial.
3. Menjelaskan peranan
iman dalam menumbuhkan gerakan pembaruan sosial.
4. Menjelaskan bahwa
kedekatan hubungan pribadi dengan Tuhan memberi daya atau kekuatan rohani untuk
membarui hidup sosial.
5. Merancang dan
melaksanakan sebuah gerakan yang mengubah situasi sosial di lingkungan sekitar.
6.
Membuat laporan
atas kegiatan.
C. Landasan Pemikiran
Tidak dapat dipungkiri
bahwa hasil pembangunan yang sangat maju sudah merambah di segala bidang
kehidupan masyarakat, terutama dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi
(Iptek), baik di sektor telekomunikasi, pengolahan pangan, produksi sandang,
pembangunan gedung dan sebagainya. Kemajuan ini tentu membawa dampak positif
dan negatif bagi manusia. Dampak positif itu, antara lain:
1.
Membawa orang
lebih dekat kepada Tuhan.
2.
Mendekatkan orang
yang satu dengan yang lain berkat keajaiban alat komunikasi dan transportasi.
3.
Menciptakan
kemudahan untuk memperoleh sandang, pangan, dan berbagai kesenangan.
Selain dampak positif itu, ada
dampak yang memprihatinkan, antara lain:
1.
Bidang politik: birokrasi berbelit-belit, kepentingan pribadi
atau golongan berada di belakang keputusan politik, merosotnya supremasi hukum,
dan sebagainya.
2.
Bidang ekonomi: pengangguran, eksploitasi tenaga kerja
anak, kemiskinan, melebarnya jurang kaya-miskin, utang negara menumpuk, dan sebagainya.
3.
Bidang sosial budaya: urbanisasi, enggan bekerja kasar,
konsumerisme, tingginya tindak kriminalitas, paternalisme, mentalitas KKN, dan
sebagainya.
4.
Bidang agama: kemerosotan moral, penghayatan iman secara
sempit, pengabaian nilai-nilai keagamaan, dan sebagainya.
Sebagian besar masyarakat kita merupakan masyarakat transisi, yakni dari
masyarakat tradisional ke masyarakat industri dan komunikasi modern, dengan
akibat segi material lebih dominan daripada segi spiritual; berkembang sikap
individualistis, materialistis, konsumeristis, dan hedonistis; timbul
pendangkalan atau krisis nilai, disorientasi hidup, keserakahan,
kesewenang-wenangan yang menginjak-injak martabat pribadi dan sebagainya.
Berhadapan dengan kenyataan semacam ini, iman ditantang untuk memainkan peranan
yang penting.
Selain itu, usaha untuk menciptakan masyarakat madani (civil society) atau
masyarakat warga negara bukan hal yang mudah untuk dilakukan, perlu kemauan dan
perjuangan yang panjang untuk meraihnya. Munculah berbagai gerakan baik yang bersifat
pribadi maupun kelompok, yang berkepentingan untuk menjawab terwujudnya
masyarakat madani tersebut, dan gerakan ini tidak memperhitungkan perbedaan
latar belakang orang atau kelompok. Misalnya, YSS (Yayasan Sosial
Soegijapranata), WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia), SPPQT (Serikat
Paguyuban Petani Qariyah Thayyibah), Gerakan Kemanusiaan Tragedi Sampit, GEMARI
(Forum Dialog Generasi antar Iman), FPUB (Forum Persaudaraan Umat Beriman)
Yogyakarta, Komunitas Tikar Pandan, dan sebagainya. Gerakan-gerakan yang ada
ini dimaksudkan untuk mengupayakan terwujudnya masyarakat madani. Masyarakat madani,
yang memiliki aneka perbedaan tetapi hidup dalam kebersamaan, tidak mungkin
terbentuk tanpa prinsip toleransi atas pluralisme, yang mengakui dan menerima
kenyataan adanya kemajemukan dalam masyarakat. Pengakuan dan penerimaan ini
harus diteruskan dengan sikap positif, sehingga kemajemukan diterima bukan
sebagai kerugian dan beban, tetapi sebagai keuntungan dan kekayaan. Di sini,
pluralisme dipahami sebagai ikatan atas keanekaragaman yang dibingkai dalam
keberadaban.
Masyarakat madani menuntut adanya hubungan saling menghormati dan
menghargai satu sama lain dalam masyarakat. Kesepakatan - kesepakatan harus
dibina dalam mengusahakan pembangunan masyarakat madani, khususnya membela
golongan lemah, menggairahkan perbuatan baik untuk sesama, dan menguatkan sikap
saling pengertian antara semua warga. Dalam masyarakat madani (civil
society) ada hak asasi manusia (civil rights) dan kebebasan manusia (civilliberties),
yang keberadaannya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Civil rights menunjuk
pada pengertian bahwa negara menjamin warga negara memperoleh perlindungan
hukum dan kesempatan yang sama untuk melaksanakan hak-hak kewarganegaraannya
dan mengambil bagian dalam kehidupan nasional tanpa memandang ras, agama, jenis
kelamin, dan sebagainya. Civilliberties menunjuk pada pengertian bahwa negara
menjamin kebebasan berbicara, pers, agama, proses hukum, dan pembatasan atas
kekuasaan negara untuk mencegah terjadinya pengekangan atau pendiktean atas
kegiatan-kegiatan individu.
Ajaran agama dan kepercayaan bukan hanya teori yang merumuskan iman, tetapi
mengarahkan perilaku orang beriman untuk melaksanakan ajaran agama dan
kepercayaan dalam hidup sehari-hari, baik secara individu maupun kelompok,
sebagai wujud konkret imannya dan tanggung jawabnya sebagai makhluk ciptaan
Tuhan. Betapa pentingnya setiap agama dan kepercayaan, terutama umat dan
pemukanya, memiliki pengertian, kepekaan, kesadaran, dan pengetahuan tentang
keadaan masyarakat, khususnya masalah-masalah sosial. Orang beriman diharapkan
berani membarui masalah-masalah sosial yang ada, karena kedekatannya dengan
Tuhan yang menjadi pendorong atau kekuatan melakukan tindakan tersebut. Orang
beriman diharapkan berani mempertanggungjawabkan iman, harapan, dan kasihnya,
baik kepada orang lain maupun di hadapan Tuhan. Dengan demikian, orang beriman
diharapkan mewujudkan imannya secara konkret dalam hidup sehari-hari, yang
tampak dalam:
1. Keterlibatan langsung
dengan masalah-masalah sosial yang memprihatinkan.
2. Keberanian untuk
memberikan kesaksian akan nilai-nilai luhur kehidupan, misalnya cinta kasih,
perdamaian, keadilan, saling menghormati, menghargai hak milik, dan sebagainya.
3. Keberanian untuk
menanggung risiko karena perjuangannya memulihkan martabat manusia.
Menolong siapapun, tanpa memandang latar belakangnya. Berikut ini disajikan beberapa pandangan dari
berbagai agama dan kepercayaan tentang imanmem-barui hidup sosial. Anda
juga dapat membaca sumber-sumber lain yang sesuai dengan tema untuk memperluas
wawasan dan pengetahuan Anda :
1.
Agama Islam
Islam menghendaki agar masyarakat manusia itu
hidup aman, tenteram dan damai, serta sejahtera baik lahir maupun batin di
bawah naungan Ilahi. Agar kehendak yang
mulia tersebut terwujud, sudah tentu setiap anggota dalam masyarakat,
terlebih-lebih para pemimpinnya, harus melaksanakan tugas dan kewajiban hidup
bermasyarakat dengan sebaik-baiknya.
- Agama Katolik
Kristus
mendatangkan perubahan revolusioner pada zamannya. Baik laki-laki maupun
perempuan diinisiasikan ke dalam perjanjian baru dengan satu upacara yang sama,
yakni pembaptisan, sehingga boleh mengambil bagian dalam perjamuan ekaristi
secara sama sederajat. Inilah perubahan-perubahan faktual, dengan konsekuensi
yang amat besar. Karena kita semua satu dalam Kristus, maka setiap orang dapat
melihat dirinya dicerminkan dalam Kristus. Apa pun status sosial kita atau
warna kulit kita atau asal-usul kita, Kristus telah menjadi ciptaan baru .
4.
Agama Kristen
Setiap orang yang telah belajar mengenal
Kristus, dan menerima pengajaran di dalam Dia, mengenakan manusia baru yang
telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang
sesungguhnya, yaitu
1.
Membuang dusta dan berkata yang
benar seorang kepada yang lain;
2.
Apabila marah tidak berbuat dosa
dan tidak menyimpan kemarahan;
3.
Tidak lagi suka mencuri tetapi
bekerja keras supaya dapat membagi sesuatu kepada
orang yang
berkekurangan;
4.
Menjaga mulutnya agar tidak
mengeluarkan kata-kata yang kotor, tetapi perkataan
yang baik dan
membangun;
5.
Membuang segala kepahitan,
kegeraman, kemarahan, pertikaian, dan fitnah serta
segala
kejahatan,
6.
Ramah seorang terhadap yang lain,
penuh kasih mesra dan saling mengampuni.
5.
Agama Hindu
Para dewa tidak menghendaki kelaparan itu
menjadikan kita mati. Orang yang makan yang baik-baik itu tak akan ditimpa
kematian dalam berbagai bentuk. Orang yang murah hati, tidak akan merana,
sedangkan yang tidak suka berderma tidak akan mendapatkan yang suka padanya.
Orang yang mempunyai makanan, ketika seseorang
yang memerlukannya datang minta makanan untuk dimakan dalam keadaan
menyedihkan, ia bersikap kaku terhadapnya bahkan pula terhadap orang tua yang
datang untuk minta ditolong, maka orang-orang yang demikian itu tidak akan
mendapatkan teman yang suka padanya.
6.
Agama Buddha
Kemajuan sosial (Silabhavana)
adalah perkembangan hubungan dan lingkungan sosial antarma-nusia yang baik. Hal
ini bisa diperoleh apabila seseorang melaksanakan peraturan (sila) dan
mengikuti ajaran Budha dalam hal mewujudkan keadilan sosial. Kehidupan lintas
budaya dapat menimbulkan permasalahan penyempitan dan pemiskinan cakrawala
wawasan agama seseorang. Oleh karena itu, tidak ada pilihan lain bagi setiap
umat Budha untuk mendorong dan memperkuat dirinya masing-masing dalam keyakinan
Dhama.
Budha Dhama mengajarkan kepada kita untuk melayani
orang banyak, sebagai perjuangan dan pengabdian kita untuk meringankan
penderitaan umat manusia, untuk mengembangkan kehidupan beragama dan disiplin
keagamaan. Dengan melaksanakan kebajikan-kebajikan tersebut bukan saja berarti
hidup baik dan agamis tetapi juga berarti menolong kepada sesama untuk bisa
hidup damai dan sejahtera. Melaksanakan kebajikan ini adalah tujuan yang harus
dapat kita capai demi keberhasilan kita dalam menghayati dan mengamalkan agama.
Dalam kehidupannya sehari-hari, peserta didik-siswi dirasa
kurang peduli terhadap masalah-masalah sosial yang ada di sekitarnya, misalnya
kecenderungan bersikap diam, tidakmau tahu, dan bahkan merasa terbebani
hidupnya bila membantu teman yang mengalami kesulitan, menghapus budaya
menyontek, terlibat aksi donor darah, mencegah perkelahian pelajar,
pemberan-tasan narkoba.
Melalui materi pokok ini, mereka diajak untuk menyadari bahwa
kedekatan hubungan pribadi dengan Tuhan akan menimbulkan daya atau kekuatan
untuk terlibat dalam membarui keadaan sosial yang memprihatinkan.
Latihan
I. Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan uraian yang jelas !
- Sebutkan
situasi sosial yang memprihatinkan di masyarakat!
- Sebutkan
usaha Anda untuk membarui hidup pribadi!
- Jelaskan
peranan iman dalam menumbuhkan gerakan pembaruan sosial!
- Jelaskan
bahwa kedekatan hubungan pribadi dengan Tuhan membawa daya rohani untuk membarui
hidup sosial!
- Sebutkan
dampak positif dari kemajuan IPTEK !
- Sebutkan
dampak negative dari kemajuan IPTEK !
- Bagaiaman
cara umat beragama Islam mewujudkan kedamaian ?
- Sebutkan
usaha Kristus yang mendatangkan perubahan revolusioner pada zamannya
- Jelaskan
arti dari Kemajuan sosial (Sila-bhavana) dalam agama Budha !
- Buatlah penilaian atau tanggapan atas gerakan yang mengubah situasi sosial yang tidak baik menjadi situasi yang baik, yang telah Anda lakukan
KISI-KISI UAS GASAL KELAS XII, PENDIDIKAN RELIGIOSITAS
Bab
I: Godaan Mengincar, Tuhan Menolong
- Pengertian
mengenai godaan
- Contoh
perbuatan/tindakan yang disebabkan oleh godaan
- Contoh
godaan yang bersifat kenikmatan, kehormatan dan kekuasaan.
- Situasi
batin orang yang jatuh dalam godaan
- Pengertian
dari sikap tegas, kritis, berprinsip dan rendah
hati dalam menghadapi godaan.
- Mengapa
seringkali orang merasa ragu-ragu dalam mengambil keputusan?
- Mengapa
godaan selalu menyerang sisi lemah manusia?
- Buah
yang akan diterima bagi orang yang selalu hidup dalam godaan
- Cara-cara
Tuhan menolong manusia mengatasi godaan
- Pengertian
anicca dalam agama Budha
Bab
II: Iman membarui Hidup Pribadi
- Contoh-contoh
sikap manusia dalam menghadapi kegagalan dalam hidup.
- Sikap-sikap
yang perlu dikembangkan untuk mengalami perubahan hidup: EMPATI, OTENTIK, RESPEK, KONFRONTASI dan PERWUJUDAN DIRI. Pahami pengertian
masing-masing sikap tersebut.
- Apa
peranan iman ketika manusia mengalami kegagalan
- Adakah
kehendak Tuhan dibalik kegagalan manusia
- Makna
penderitaan dalam ajaran agama katolik
- Apa
artinya bahwa keselamatan merupakan anugerah Allah?
- Refleksi Film The Pianis:
Wladislaw Szpilman mengalami penderitaan yang amat mengerikan oleh karena
kekejaman rezim Hitler yang berusaha menghapus ras kaum Yahudi. Namun
Szpilman mampu melewati penderitaan dalam hidupnya dan bahkan mampu
bertahan hidup dalam situasi yang tidak aman. Apa yang membuat dia kuat
dalam menghadapi penderitaan hidupnya?
Bab
III: Berkorban memberi Hidup
- Mengapa
di zaman modern ini orang semakin sulit berkorban bagi orang lain?
- Mengapa
orang mau berkorban untuk orang lain?
- Pengertian
pengorbanan vertical dan horizontal
- Contoh-contoh
pengorbanan vertical dan Horizontal
- Contoh
pengorbanan yang dilakukan Sidharta Gautama.
- Syarat
mengikuti Yesus dalam agama Kristen
Bab
IV: Iman membarui Hidup Sosial
- Contoh-contoh
dampak positif kemajuan teknologi
- Contoh-contoh
dampak negatif kemajuan teknologi di bidang politik, ekonomi, sosial
budaya dan keagamaan!
- Pengertian
dari masyarakat Transisi dan Masyarakat Madani
- Ciri-ciri
masyarakat transisi dan masyarakat madani
- Contoh
gerakan-gerakan untuk mewujudkan masyarakat madani adalah
- Contoh
sikap umat beriman yang mau terlibat langsung dengan masalah sosial yang
memprihatinkan!
- Peran
iman terhadap kehidupan masyarakat sosial adalah memberi kekuatan bagi
manusia untuk melakukan pembaruan masalah sosial.
- Pengertian
Civil Rights
- Dalam Film Bless The Child,
kisah Erick Stark yang mendirikan sebuah lembaga rehabilitasi pecandu
narkoba (New Dawn) yang sebenarnya merupakan cara dia mengembangkan ajaran
sesatnya (satanisme) merupakan contoh bahwa keyakinan seseorang
mempengaruhi kehidupan sosialnya. Apa pengaruh yang diciptakan oleh Erick
Stark? Bagaimana akhirnya pengaruh Erick Stark dikalahkan?
Bab
V : Firman Tuhan mewujudkan Keadilan dalam Masyarakat
- Contoh
ketidakadilan yang masih sering terjadi di Indonesia
- Tokoh-tokoh
pejuang keadilan di Indonesia, misalnya: Rm.YB. Mangunwijaya, Ign.Sandiwan
Sumardi, Karlina Leksono Supelli dan Dwi Rosa Damayanti
- Tokoh-tokoh
pejuang keadilan internasional: Bunda Theresa (dari Calcutta India), Mahatma
Gandi, Nelson Mandela.
- Pengertian
keadilan distributif menurut Aristoteles adalah keadilan yang diberikan
kepada seseorang menurut jasanya. Misalnya: pemberian upah buruh,
pemberian gaji berdasarkan tingkat pendidikan, kenaikan gaji berdasarkan
lama bekerja.
- Keadilan
komutatif menurut aristoteles adalah keadilan yang diberikan kepada setiap
orang sama banyaknya. Misal: pembagian sembako, subsidi BBM.
- Contoh lembaga/organisasi yang memperjuangkan
keadilan: Komnas HAM, UPC (Urban Poor Consortium), Yayasan Sosial
Soegijapranata, CRE (Commision for Racial Equality), Komisi bagi kesamaan
ras yang didirikan oleh pemerintah Inggris, Badan-Badan PBB seperti UNHCR,
UMCEF, WHO.
- Pengertian metta,
karuna, mudita dan upekkha
dalam agama Budha.
- Apa sikap yang harus dikembangkan untuk mengatasi ketidakadilan di negeri ini
RANGKUMAN MATERI BAB III PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK KELAS XI
PERAN HIERARKI DAN KAUM AWAM DALAM GEREJA
PENGERTIAN
DAN PERAN HIERARKI
Kata “Hierarki” berasal dari bahasa Yunani hierarchy yang
berarti “asal usul suci atau tata susunan”. Menurut ajaran resmi Gereja
Katolik, susunan, struktur hierarki sekaligus merupakan hakikat kehidupannya
juga. Maka dari itu dalam himpunan yang tersusun secara hierarkis yaitu para
Rasul telah berusaha mengangkat para pengganti mereka. Struktur Hierarkis
Gereja yang sekarang terdiri dari dewan para Uskup dengan Paus
sebagai kepalanya, dan para Imam serta
Diakon sebagai pembantu Uskup. Para Uskup pengganti para Rasul yang
dipimpin oleh Paus pengganti Petrus bertugas melayani, menggembalakan jemaat
(bdk. Yoh 21: 15-19) bersama para pembantu mereka, yakni para Imam dan Diakon.
Sebagai wakil Kristus, mereka memimpin kawanan yang mereka gembalakan (pimpin),
sebagai guru dalam ajaran, Imam dalam ibadat suci, dan pelayan dalam bimbingan.
Uskup
Pada dasarnya Paus
adalah seorang Uskup. Paus adalah pemimpin/kepala Dewan Uskup. Seorang
Uskup selalu berkarya dalam persekutuan dengan para Uskup lain dan mengakui Paus sebagai kepala. Karya seorang
Uskup adalah “menjadi asas dan dasar kelihatan bagi kesatuan dalam Gereja-Nya
(LG 23). Tugas pokok Uskup di tempatnya sendiri adalah pemersatu. Tugas hierarki
yang pertama dan utama adalah mempersatukan dan mempertemukan umat. Tugas ini
dapat disebut tugas kepemimpinan dari para Uskup “dalam arti sesungguhnya
disebut pembesar umat yang mereka bimbing”
Para
Imam: adalah Wakil Uskup
Di setiap jemaat setempat dalam arti tertentu, mereka
menghadirkan Uskup. “Para Imam dipanggil melayani umat Allah sebagai pembantu
arif bagi badan Uskup, sebagai penolong dan organ mereka “(LG 28). Tugas
konkret para Imam sama seperti Uskup. Mereka ditahbiskan pertama-tama untuk
mewartakan Injil (lih. PO 4) dan menggembalakan umat.
Diakon:
pelayan, hierarki tingkat yang lebih rendah
Ditumpangi tangan bukan untuk Imamat tetapi untuk
pelayanan (LG 29). Mereka ini juga pembantu Uskup, tetapi tidak mewakili. Para
Diakon adalah pembantu Usk-up dengan tugas terbatas. Dengan kata lain Diakon
adalah pembantu khusus Uskup, sedangkan Imam adalah pembantu umum Uskup.
Kardinal:
Kardinal bukan jabaran hierarkis dan tidak termasuk
struktur hierarkis. Kardinal adalah penasehat dan membantu Paus dalam tugas
reksa harian seluruh Gereja. Mereka membentuk suatu dewan Kardinal. Jumlah
dewan yang berhak memilih Paus dibatasi 120 orang di bawah usia 80 tahun.
Seorang Kardinal dipilih oleh Paus secara bebas.
Fungsi
Khusus Hierarki
Seluruh umat Allah mengambil bagian di dalam tugas
Kristus sebagai nabi (mengajar), Imam (menguduskan), dan Raja (menggembalakan).
Pada kenyataannya umat tidak seragam, maka Gereja mengenal pembagian tugas tiap
komponen umat (hierarki, biarawan/biarawati, dan Awam). Menjalankan tugas
dengan cara yang berbeda. Berdasarkan keterangan yang telah diungkapkan di
atas, fungsi khusus hierarki adalah:
- Menjalankan
tugas Gerejani, yakni tugas-tugas yang langsung dan eksplistis menyangkut
kehidupan beriman Gereja, seperti: pelayanan sakramen-sakramen, mengajar, dan
sebagainya.
- Menjalankan
tugas kepemimpinan dalam komunikasi iman. Hierarki mem-persatukan umat dalam
iman dengan petunjuk, nasihat, dan teladan.
Corak
Kepemimpinan dalam Gereja
-
Kepemimpinan dalam Gereja merupakan suatu panggilan
khusus di mana campur tangan Tuhan merupakan unsur yang dominan. Kepemimpinan
Gereja tidak diangkat oleh manusia berdasarkan bakat, kecakapan, atau prestasi
tertentu. Kepemimpinan dalam Gereja tidak diperoleh oleh kekuatan manusia
sendiri. “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu.”
Kepemimpinan dalam masyarakat dapat diperjuangkan oleh manusia, tetapi
kepemimpinan dalam Gereja tidaklah demikian.
-
Kepemimpinan dalam Gereja bersifat mengabdi dan
melayani dalam arti semurni-murninya, walaupun ia sungguh mempunyai wewenang
yang berasal dari Kristus sendiri.
-
Kepemimpinan gerejani adalah kepemimpinan melayani,
bukan untuk dilayani, sebagaimana yang ditunjukkan oleh Yesus sendiri. Maka
Paus disebut sebagai “Servus Servorum
Dei”=hamba dari hamba-hamba Allah.
-
Kepemimpinan hierarki berasal dari Tuhan, maka tidak
dapat dihapuskan oleh manusia. Kepemimpinan dalam masyarakat dapat diturunkan
oleh manusia, karena ia memang diangkat dan diteguhkan oleh manusia.
PENGERTIAN
DAN PERAN KAUM AWAM
Istilah “Awam” diterjemahkan dari kata Yunani “Laikos”
yang berarti bukan ahli.Dalam kaitan dengan kehidupan agama Yahudi, kelompok
“Awam” adalah anggota umat yang bukan golongan Imam atau Levit yang terkenal
sebagai ahli Kitab Suci (Taurat). Kompendium Ajaran Sosial Gereja menjelaskan
bahwa “ciri khas hakiki
Kaum Awam beriman yang bekerja di kebun anggur Tuhan
(bdk.Mat 20:1-16) adalah corak sekular dari kemuridan mereka sebagai orang
Kristen, yang justru dilaksanakan di dalam dunia”. Fakta dalam kehidupan gereja,
bagian terbesar dalam Gereja adalah Kaum Awam. Kaum Awam dalam
gereja tidak menjalankan tugas pelayanan suci atau menerimakan
sakramen-sakramen, melainkan menghayati panggilan hidunya dengan cara menjalankan tugas-tugas sesuai dengan peran atau pekerjaannya. Tokoh kaum
awam Katolik yang menjadi teladan dalam perannya di masyarakat adalah Ignatius
Joseph Kasimo (buku cetak hlm.47). Melalui Partai Katolik yang didirikannya IJ. Kasimo
bersaksi bahwa iman katolik adalah iman yang harusnya menggema dalam hidup
bermasyarakat sehari-hari. IJ. Kasimo melihat politik sebagai sebuah sarana
perjuangan yang harus dilaksanakan dengan menjunjung kemanusiaan dan
kesejahteraan masyarakat.
“Yang dimaksud dengan istilah Awam
disini ialah semua orang beriman kristiani kecuali mereka yang termasuk
golongan Imam atau status religius yang diakui dalam Gereja. Jadi kaum beriman
kristiani, yang berkat babtis telah
menjadi anggota tubuh Kristus, terhimpun menjadi Umat Allah, dengan cara mereka
sendiri ikut mengemban tugas Imamat, kenabian dan rajawi Kristus, dengan
demikian sesuai dengan kemampuan mereka melaksanakan perutusan segenap Umat
kristiani dalam
Gereja dan di dunia. Ciri khas dan
istimewa Kaum Awam yakni sifat keduniaannya. Sebab mereka yang termasuk golongan
Imam, meskipun kadang-kadang memang dapat berkecimpung dalam urusan-urusan
keduniaan, juga dengan mengamalkan profesi keduniaan, berdasarkan panggilan
khusus dan tugas mereka terutama diperuntukkan bagi pelayanan suci. Sedangkan
para religius dengan status hidup mereka memberi kesaksian yang cemerlang dan
luhur, bahwa dunia tidak dapat diubah dan dipersembahkan kepada Allah, tanpa
semangat Sabda bahagia. Berdasarkan panggilan mereka yang khas, Kaum Awam wajib
mencari kerajaan Allah, dengan mengurusi hal-hal yang fana dan mengaturnya
seturut kehendak Allah. Mereka hidup dalam dunia, artinya: menjalankan segala
macam tugas dan pekerjaan duniawi, dan berada ditengah kenyataan biasa hidup
berkeluarga dan sosial. Hidup mereka kurang lebih terjalin dengan itu semua. Di
situlah mereka dipanggil oleh Allah, untuk menunaikan tugas mereka
sendiri dengan dijiwai semangat Injil, dan dengan demikian ibarat ragi membawa
sumbangan mereka demi pengudusan dunia bagaikan dari dalam. Begitulah mereka
memancarkan iman, harapan dan cinta kasih terutama dengan kesaksian hidup
mereka, serta menampakkan Kristus kepada sesama. Jadi tugas mereka yang
istimewa yakni: menyinari dan mengatur semua hal-hal fana, yang erat-erat
melibatkan mereka, sedemikian rupa, sehingga itu semua selalu terlaksana dan
berkembang menurut kehendak Kristus, demi kemuliaan Sang Pencipta dan Penebus”.
Langganan:
Postingan (Atom)

