Jumat, 04 Maret 2016

Kisi-Kisi Ujian Sekolah 2016


PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DAN BUDI PEKERTI

 MATERI KELAS XBAB I : Manusia Mahkluk Pribadi
1.     Pengertian manusia sebagai mahkluk individu
2.     Unsur-unsur yang membentuk manusia sebagai mahkluk individu
3.     Faktor-faktor yang mempengaruhi kekhasan/kepribadian manusia
4.     Pengertian manusia disebut sebagai mahkluk monodualis
5.     Mengapa manusia disebut sebagai mahkluk yang unik?
6.     Bagaimana manusia mensikapi keunikan dirinya
7.     Kutipan Kitab Suci tentang keunikan manusia
8.     Tujuan Allah menciptakan manusia laki-laki dan perempuan
9.     Unsur-unsur yang menunjukkan keunikan manusia
10.  Apa tugas yang diberikan oleh Allah kepada manusia ciptaan-Nya

 MATERI KELAS XI
Bab I : Gereja sebagai Umat allah dan Persekutuan yang terbuka
1.     Ciri-ciri Gereja sebagai Umat Allah
2.     Hakekat Gereja sebagai Umat Allah
3.     Peran umat beriman dalam hidup menggereja
4.     Arti Gereja/ekklesia
5.     Makna sifat keterbukaan Gereja
6.     Contoh upaya untuk menunjukkan sifat keterbukaan Gereja

 Bab IV:  Tugas-Tugas Gereja
1.     Apa Arti Hierarki
2.     Menjelaskan tugas-tugas Gereja (Liturgia, Kerygma, Martyria, Koinonia, dan Diakonia)
3.     Apa arti doa?
4.     Pengertian sakramen menurut gereja katolik

 MATERI KELAS XII
Bab I : Panggilan Hidup sebagai Umat Allah
Hidup Manusia yang Bermakna
1.     Makna hidup manusia
2.     Rencana allah bagi hidup manusia
3.     Tiga cara untuk mempertanggungjawabkan hidup

Panggilan Hidup Berkeluarga
4.     Arti perkawinan secara umum
5.     Pandangan tradisional mengenai perkawinan
6.     Tugas dan tanggungjawab suami/bapak dalam keluarga: sebagai kepala keluarga, sebagai partner istri, sebagai pendidik (masing-masing contohnya seperti apa)
7.     Tugas dan tanggungjawab istri/ibu dalam keluarga: sebagai hati keluarga, sebagai partner suami, sebagai pendidik (masing-masing contohnya apa)
8.     Dasar perkawinan adalah cinta, apa maksudnya!
9.     Contoh sikap dalam membina cinta dalam keluarga
10.  Apa yang paling penting dalam menjaga keharmonisan keluarga

 Perkawinan dalam Tradisi Katolik
11.  Mengapa perkawinan katolik dsebut sakramen?
12.  Apa artinya istilah berikut: consortium totius vitae, feodus, monogam,
13.  Apakah sifat dasar dari sebuah perkawinan
14.  Mengapa dalam perkawinan katolik tidak mengenal adanya perceraian?
15.  Sebutkan ajaran kitab suci tentang perkawinan
16.  Apakah syarat mutlak supaya perkawinan katolik dapat dilangsungkan dengan sah?

 Tantangan Hidup berkeluarga
17.  Apakah tantangan paling mendasar dalam hidup berkeluarga?
18.  Apa arti dan tujuan  program keluarga berencana (kb)
19.  Mengapa gereja katolik kurang setuju dengan adanya alat-alat kontrasepsi?
20.  Mengapa nilai kesetiaan suami istri saat ini semakin menurun?
21.  Apa saja yang mempengaruhi komunikasi dalam keluarga tidak bisa berjalan dengan baik
22.  Di jaman modern ini penghayatan iman dalam keluarga disinyalir juga semakin menurun, apa contohnya?
23.  Apa saja upaya yang bisa dilakukan untuk menghadapi tantangan dalam hidup berkeluarga

 Panggilan Hidup Membiara
24.  Apa artinya hidup membiara
25.  Contoh-contoh cara hidup membiara
26.  apa artinya kaul kemiskinan, kaul ketaatan dan kaul kemurnian?
27.  arti istilah: sede vacante dan administrator Keuskupan

 Bab II : Memperjuangkan Nilai-nilai Kehidupan Manusia
1.     Contoh-contoh upaya memperjuangkan nilai keadilan
2.     Contoh ketidakadilan di indonesia
3.     sikap/tindakan yang menunjukkan usaha dalam menghayati nilai kejujuran dan kebenaran
4.     Paus Yohanes XXIII menulis sebuah ensiklik berjudul Pacem in Terris yang artinya?
5.     Apa arti keutuhan ciptaan?
6.     apa saja pesan Uskup AGung Jakarta dalam surat gembala Hari pngan Sedunia?
7.     apa judul ensiklik yang ditulis Paus Fransiskus dalam mensikapi situasi dunia sekarang ini?
8.     sebutkan contoh-contoh upaya untuk merawat bumi rumah kita bersama ini?

 Bab III : Keberagaman dalam Hidup Bermasyarakat
  1. memahami bahwa keberagaman merupakan realitas asali manusia karena sejak awal Tuhan menciptakan alam semesta dan isinya dalam keberagaman
  2. jelaskan pengertian dari teori konflik: teori hubungan masyarakat, teori identitas, teori kesalahpahaman antar budaya
  3. apakah arti dari keberagaman
  4. apa maksud semboyan Bhineka Tunggal Ika
  5. Jelaskan unsur-unsur yang mempengaruhi keberagaman
  6. sebutkan upaya-upaya untuk mengatasi konflik dalam masyarakat
  7. jelaskan pengertian dan contoh konflik vertikal dan konflik horisontal

Senin, 22 Februari 2016

Rangkuman Materi Kelas XII Bab III: Keberagaman dalam Hidup Bermasyarakat


Masyarakat Indonesia dan masyarakat dunia pada umumnya adalah komunitas yang beragam, penuh dengan perbedaan, sehingga kita harus dapat bersikap arif dalam menyikapi perbedaan yang ada agar tidak berujung pada sebuah konflik. Ada beberapa teori konflik yang menjelaskan penyebab terjadinya konflik di tengah masyarakat antara lain: Teori hubungan masyarakat; berpandangan bahwa konflik yang sering muncul ditengah masyarakat disebabkan polarisasi yang terus terjadi, ketidakpercayaan dan permusuhan di antara kelompok yang berbeda, perbedaan bisa dilatarbelakangi sara bahkan pilihan ideologi politiknya. Teori identitas; berpandangan bahwa konflik yang mengeras di masyarakat tidak lain disebabkan identitas yang terancam yang sering berakar pada hilangnya sesuatu atau penderitaan masa lalu yang tidak terselesaikan. Teori kesalahpahaman antarbudaya;berpandangan bahwa konflik disebabkan ketidakcocokan dalam cara-cara berkomunikasi di antara budaya yang berbeda. Teori transformasi yang memfokuskan pada penyebab terjadi konflik berpandangan bahwa ketidaksetaraan dan ketidakadilan yang muncul sebagai masalah sosial budaya dan ekonomi. Intinya, manusia yang beradap harus bersikap terbuka dalam melihat semua perbedaan dalam keragaman yang ada dan menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan agar keragaman menjadi aset kekayaan bangsa yang dapat mempersatukan bangsa ini.
Dalam Kamus Besar Bahasa Iindonesia (KBBI), Keragaman berasal dari kata ragam, yang berarti (1) sikap, tingkah laku, cara; (2) macam, jenis; (3) musik, lagu, langgam; (4) warna, corak; (5) laras (tata bahasa), keragaman menunjukan adanya banyak macam. Sedangkan keragaman sendiri berarti perihal berjenis-jenis atau beragam-ragam atau suatu keadaan yang beragam-ragam. Keragaman secara umum adalah suatu kondisi dimana terdapat perbedaan-perbedaan di dalam masyarakat di berbagai bidang seperti suku bangsa dan ras, agama dan keyakinan, ideologi dan politik, adat dan kesopanan, sosial dan ekonomi.

Unsur-Unsur Yang Mempengaruhi Keberagaman
Unsur-unsur keragaman dalam masyarakat yaitu, antara lain; suku bangsa dan ras, agama dan keyakinan, ideologi dan politik, adat dan tatakrama, kesenjangan ekonomi dan sosial.Suku bangsa dan ras yang menempati wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke sangatlah beragam. Dari keragaman tersebut ada perbedaan ras dari ciri-ciri biologis lahiriah yang sama seperti rambut, warna kulit, ukuran tubuh, mata, ukuran kepala, dan lain sebagainya. Suku bangsa yang ada di Indoseia lebih dari 300 macam. Sedangkan ras yang ada di Indonesia antara lain ras mongoloid yang terdapat di bagian Barat Indonesia dan ras austroloid yang terdapat di sebelah Ttimur Indonesia. Tentu saja bahwa manusia tidak bisa memilih agar dilahirkan di suku atau bangsa tertentu. Karena itu, manusia tidak pantas membanggakan dirinya atau melecehkan orang lain karena faktor suku atau bangsa.
Agama dan keyakinan mengandung arti ikatan yang harus dipegang dan dipatuhi manusia. Ikatan yang dimaksud berasal dari suatu kekuatan yang lebih tinggi (trasendensi) dari manusia sebagai kekuatan gaib yang tak dapat ditangkap dengan panca indra. Namun juga kekuatan gaib itu berdiam di dalam diri manusia (imanen), yang hanya bisa dirasakan kekuatannya. Dalam kenyataannya fungsi agama dalam masyarakat antara lain adalah: berfungsi edukatif: ajaran agama secara hukum berfungsi menyuruh dan melarang, berfungsi penyelamat, berfungsi sebagai perdamaian, berfungsi sebagai sosial control, berfungsi sebagai pemupuk rasa solidaritas, berfungsi transformatif, dan sebagainya. Di Indonesia, agama merupakan unsur yang sangat penting dan terdapat enam agama yang diakui, hal itu merupakan bukti adanya keragaman dalam hal agama atau kepercayaan. Adapun terhadap keragaman manusia dalam hal kepercayaan, sikap, dan perilakunya, manusia tidak dipandang sederajat. Ada yang mulia dan ada yang hina, bergantung pada kadar ketakwaannya.
Ideologi dan politik: Ideologi  adalah suatu istilah umum bagi sebuah gagasan yang berpengaruh kuat terhadap tingkah laku dalam situasi khusus karena merupakan kaitan antara tindakan dan kepercayaan yang fundamental. Sedangkan politik bermakna usaha dalam menegakkan keteriban sosial. Fungsi ideologi adalah untuk memperkuat landasan moral dalam suatu tindakan. Adanya banyak partai di Indonesia merupakan bukti keragaman dalam hal ideologi dan politik. Meskipun pada keyataanya Indonesia hanya mengakui pancasila sebagai satu-satunya ideologi.
Tatakrama; yang berarti adat istiadat, sopan santun, pada dasarnya ialah segala tindakan, perilaku, adat istiadat, tegur sapa, ucap dan cakap sesuai kaidah atau norma tertentu. Tatakrama di bentuk dan dikembangkan oleh masyarakat itu sendiri dan diharapkan akan terjadi interaksi sosial yang tertib dan efektif di dalam masyarakat itu sendiri.
Kesenjangan ekonomi dan sosial; Indonesia merupakan negara berkembang dimana masalah perekonomian diperhatikan agar dapat meningkat. Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang majemuk dengan bermacam tingkat, pangkat, golongan dan strata sosial. Dalam hal ini terlihat jelas bahwa terdapat penggolongan orang berdasarkan status sosial Indonesia adalah negara dengan struktur masyarakat yang majemuk dan memiliki banyak keragaman dalam banyak hal. Keragaman tersebut dapat mempengaruhi kehidupan kita. Banyak pengaruh yang timbul karena adanya keragaman, diantaranya adalah: 1) Didalam kelompok-kelompok sering kali terjadi segmentasi karena memiliki kebudayaan yang berbeda. 2) Struktur sosial terbagi-bagi kedalam lembaga-lembaga yang bersifat non komplemeter. 3) Kurang adanya pengembangan konsesus diantara para anggota masyarakat tentang nilai-nilai sosial yang bersifat dasar. 4) Secara relatif sering kali terjadi konflik diantara kelompok yang satu dengan yang lainnya, karena adanya perbedaan. 5) Secara relatif intergrasi sosial tumbuh diatas paksaan dan saling ketergantungan didalam bidang ekonomi. 6) Adanya dominasi politik oleh suatu kelompok terhadap kelompok yang lain. Selain pengaruh diatas, jika keterbukaan dan kedewasaan sikap dikesampingkan, besar kemungkinan tercipta masalah-masalah yang menggoyahkan persatuan dan kesatuan bangsa seperti: 1) Terjadinya disharmonisasi, dimana tidak ada penyesuaian atas keragaman antara manusia dengan dunia lingkungannya. 2) Terjadi diskriminatif terhadap suatu kelompok masyarakat tertentu yang akan memunculkan masalah yang lain, yaitu kesenjangan dalam berbagai bidang yang merugikan kita dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 3) Terjadi eksklusivisme, rasialis, bersumber dari superioritas diri, alasannya dapat bermacam-macam, antara lain keyakinan bahwa secara kodrati ras/sukunya kelompoknya lebih tinggi dari ras/suku/kelompok lain, menganggap kelompok lain derajatnya lebih rendah dari pada kelompoknya sendiri.
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk memperkecil masalah yang diakibatkan oleh pengaruh negatif dari keragaman, yaitu : 1) Semangat Religius; 2) Semangat Nasionalisme; 3) Semangat Pluralisme; 4) Semangat Humanisme; 5) Dialog antar umat beragama; 6) Membangun suatu pola komunikasi untuk interaksi maupun konfigurasi hubungan antar agama, media, masa, dan harmonisasinya.
Problematika yang sedang dialami bangsa Indonesia saat ini adalah adanya gejala diskriminasi dalam masyarakat yang beragam. Diskriminasi adalah setiap tindakan yang melakukan pembedaan terhadap seseorang atau sekelompok orang berdasarkan ras, agama, suku, etnis, kelompok, golongan, status, kelas sosial ekonomi, jenis kelamin, kondisi fisik, usia, orientasi seksual, pandangan ideologi, dan politik. Tentu saja kondisi ini bertolak belakang dengan semangat kebangsaan kita sebagaimana ditegaskan dalam pasal 28 ayat 2 UUD 1945 bahwa “Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apapun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu”. Sangat jelas sekali bahwa setiap orang mendapat perlindungan saat dia mendapat perlakuan diskriminasi. Meskipun begitu diskriminasi masih terjadi diberbagai belahan dunia, dan prinsip non diskriminasi harus mengawali kesepakatan antar bangsa untuk dapat hidup dalam kebebasan, keadilan, dan perdamaian.

Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, diceritakan bahwa Bangsa Terpilih sering kali menghayati rasa satu bangsa, satu Tuhan, satu negeri, satu tempat ibadat, dan satu tata hukum (bdk.Ul 12). Dari sejarahnya, ternyata ketika mereka bersatu, mereka menjadi kuat, sanggup mengalahkan musuh dan menjadikan dirinya bangsa yang jaya. Namun, ketika mereka tidak bersatu, mereka menjadi bangsa yang tak berdaya dan tiap kali secara gampang dikalahkan oleh musuh-musuh mereka. Kitab Suci menceritakan bahwa ketika mereka dari Mesir memasuki tanah Kanaan di bawah pimpinan Yosua, mereka sungguh bersatu dan dapat merebut Tanah Terjanji itu. (bdk.Yos 6: 1-15, 63). Ketika mereka sudah menempati Tanah Terjanji yang dibagi menurut suku-suku keturunan Yakob, maka mereka lama-kelamaan terpecah dan menjadi lemah. Pada saat-saat itu, mereka menjadi lemah dan gampang dikalahkan oleh musuh-musuh mereka. Mereka pernah bersatu di bawah pimpinan raja Daud dan menjadi bangsa yang kuat dan jaya. Kemudian mereka terpecah lagi dan menjadi lemah. Dalam Kitab Suci Perjanjian Baru, dikisahkan bahwa ketika saat Mesias datang, umat Israel telah dijajah oleh bangsa Romawi. Akibatnya mereka menjadi bangsa yang lemah dan terpecah belah. Ketika Yesus ingin mempersatukan mereka dalam suatu Kerajaan dan Bangsa yang baru yang bercorak rohani, Yesus mengeluh bahwa betapa sulit untuk mempersatukan bangsa ini. Mereka seperti anak-anak ayam yang kehilangan induknya (bdk. Mat 23: 37-38). Yesus bahkan berusaha untuk menyapa suku yang dianggap bukan Yahudi lagi seperti orang-orang Samaria. Kita tentu masih ingat akan sapaan dan dialog Yesus dengan wanita Samaria di sumur Yakob. Pada pelajaran ini, peserta didik dibimbing untuk memahami dan menghayati makna dan hakekat keberagaman sebagai realitas asali kehidupan manusia, khususnya dalam keberagaman atau kemajemukan hidup bangsa Indonesia sesuai semangat injili yaitu semangat Yesus sendiri. 

Kamis, 10 Desember 2015

SURAT GEMBALA USKUP AGUNG JAKARTA
DALAM RANGKA HARI PANGAN SEDUNIA TAHUN 2015
“MERAWAT BUMI RAHIM PANGAN KITA”

Para Ibu dan Bapak, Suster, Bruder, Frater,
Kaum muda, remaja dan anak-anak yang terkasih dalam Kristus,
Setiap tanggal 16 Oktober Gereja Katolik ikut memperingati Hari Pangan Sedunia sebagai wujud keterlibatan Gereja di tengah keprihatinan dunia ini. Sehubungan dengan peringatan itu, baiklah kita merenungkan beberapa hal.
Dari kacamata iman kita, peringatan Hari Pangan dapat memperdalam kesadaran kita bahwa hidup yang diciptakan Allah adalah anugerah. Manusia diciptakan tidak hanya untuk sekedar hidup, melainkan untuk tumbuh dan berbuah. Kita pun mengimani bahwa Allah tidak hanya menciptakan lalu meninggalkan ciptaan-Nya begitu saja. Ia setia menyertai dan menguatkan, melalui makanan yang disediakan, maupun melalui kehadiran sesama dan seluruh alam ciptaan.
Tidak bisa kita ingkari bahwa bumi seisinya memberi makanan kepada manusia agar hidup, dan sekaligus hidup manusia diharapkan juga memberi kehidupan pada seluruh ciptaan. Tepatlah menyebut bumi sebagai ibu bumi, karena dari rahimnya mengalir kehidupan. Hal ini pun ditegaskan oleh Paus Fransiskus dalam ensiklik yang berjudul Laudato si’ – Pujian bagi-Mu ya Tuhanku yang belum lama diterbitkan, bahwa bumi adalah rumah bersama yang perlu kita jaga. Bumi adalah sumber kehidupan kita.
Paus Fransiskus menuliskan ensikliknya dalam sebuah keprihatinan bahwa bumi ini makin rusak. Ada gejala pemanasan global yang mengacaukan keselarasan hidup manusia dan bumi. Ada kehancuran lingkungan yang mengakibatkan berbagai penderitaan. Dalam hal ini, Paus Fransiskus tidak mengada-ada, karena pernyataan-pernyataannya memang didukung data. Terkait dengan semua itu, Paus menyebut keserakahan manusia sebagai salah satu sumber dari berbagai bencana itu. Salah satu hal yang disebut Paus sebagai wujud keserakahan adalah “budaya mudah membuang” yang menjadi ciri orang jaman ini. Tidak hanya barang yang dibuang, tetapi juga makanan. Akibatnya, bukan hanya sampah yang menumpuk, tetapi juga pemborosan dan penderitaan banyak orang yang seharusnya berhak atas makanan yang dibuang itu. Baik kita ingat pula kata-kata Rasul Paulus, bahwa orang serakah adalah penyembah berhala (Ef 5:5).
Keprihatinan atas rusaknya bumi tidak hanya menjadi keprihatinan Paus. Terkait dengan hal ini, Perserikatan Bangsa-bangsa dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup 5 Juni 2015 yang lalu, mengangkat tema Mimpi dan Aksi Bersama untuk Keberlanjutan Kehidupan di Bumi. Tema ini jelas menunjukkan bahwa hidup seluruh manusia tergantung pada satu bumi, dan demi berlangsungnya hidup yang lebih baik di masa depan, bumi harus dijaga baik-baik.
Tema-tema yang mencerminkan keprihatinan pada kondisi bumi sungguh sangat relevan untuk Indonesia yang kita cintai. Salah satu yang paling kentara adalah pulau Jawa, yang dulu dikenal sebagai lumbung padi karena kesuburannya. Tetapi sekarang penduduk di pulau Jawa harus mendatangkan padi dari luar Jawa, bahkan dari luar negeri. Sekarang tampaknya situasi menjadi lebih buruk. Selama musim kemarau ini banyak daerah di Jawa yang mengalami kekeringan, termasuk beberapa daerah yang belum pernah mengalaminya. Data Perwakilan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-bangsa di Indonesia (30 Mei 2015) menyebutkan 19,4 juta penduduk Indonesia (7,9%) masih menderita kelaparan pada tahun 2014-2015.
Melihat semua hal itu, apakah kita mau berdiam diri? Apakah kita tidak mau mengubah kebiasaan kita? Paus dalam ensikliknya juga menegaskan agar kita melakukan pertobatan, terutama dari keserakahan kita. Beliau mengingatkan kita agar mewujudkan kepedulian itu antara lain dengan memasak dan menyediakan makan secukupnya, membeli atau mengambil makanan secukupnya, sehingga tidak membuang-buang makanan yang seharusnya menjadi hak orang lain, khususnya orang miskin. Lebih jauh, supaya bumi ini tetap terjaga dan tetap bisa menyediakan makanan untuk semua yang hidup di atasnya, kita perlu menjaganya, tidak mengotori atau merusaknya. Dalam hal ini kita juga ingat, bahwa pemakaian plastik dan styrofoam yang berlebihan akan membuat tanah dan air terpolusi.
Saudari-saudaraku yang terkasih,
Sabda Yesus yang kita dengarkan pada hari ini mengajak kita untuk menempatkan pesan “merawat bumi sebagai rahim pangan kita”, sebagai keprihatinan sekaligus tantangan iman kita. Ada sekurang-kurangnya dua hal yang menarik dalam kisah orang kaya ini (Mrk 10:17-27). Yang pertama, ketika menjawab pertanyaan orang kaya itu, Yesus mengutip bagian pertama kesepuluh perintah Allah. Tetapi Ia juga menyisipkan satu perintah yang tidak terdapat dalam kesepuluh perintah Allah itu, yaitu “jangan mengurangi hak orang” (ay 19). Kita diingatkan oleh Bapa Paus bahwa dengan membuang-buang barang atau makanan, pada dasarnya kita mengurangi hak orang lain. Yang kedua, ketika orang kaya itu mengatakan bahwa ia sudah melakukannya sejak mudanya, Yesus “memandang dia dan menaruh kasih kepadanya” (ay 21). Dengan melakukan itu Yesus ingin mengatakan kepada kita, bahwa orang kaya itu sebenarnya adalah orang baik. Mungkin dia tidak pernah secara sadar telah mengurangi hak orang lain. Tetapi budaya, sistem atau struktur masyarakat tempat ia hidup telah menjeratnya sedemikian rupa, sehingga tindakannya mengurangi hak orang lain tidak disadari atau dianggap biasa-biasa saja. Yesus ingin membantu orang kaya itu untuk keluar dari jerat budaya, sistem atau struktur itu dengan mengambil langkah radikal dan tindakan nyata berbagi harta dengan orang miskin (ay 21). Tetapi Yesus tidak berhasil meyakinkannya.
Kalau dibaca dengan kacamata Kitab Kebijaksanaan (7:7-11)  orang kaya itu bukan orang yang memiliki “pengertian” dan “roh kebijaksanaan”. Yang disebut “pengertian” dan “kebijaksanaan” memungkinkan orang melihat secara jernih “mempertimbangkan dengan cermat makna serta nilai hal-hal duniawi yang sesungguhnya, dalam dirinya maupun sehubungan dengan tujuan manusia” (Dekrit Tentang Kerasulan Awam No. 4). Dalam rangka Hari Pangan Sedunia, pengertian dan kebijaksanaan itu mewajibkan kita agar ikut memelihara bumi dengan berbagai macam cara yang mungkin ditempuh.
Jika demikian, apa yang bisa kita buat? Paus memberikan pesan yang sangat jelas agar kita ikut memelihara bumi sebagai rumah bersama. Dalam kaitan dengan makanan yang disediakan bumi, “rumah” lebih tepat disebut “rahim”. Tidak bisa tidak, demi kelangsungan hidup, rahim itu perlu sungguh dijaga bersama. Hal itu bisa dibuat dengan melakukan gerakan-gerakan kecil sebagaimana yang disebut oleh Paus seperti menghemat air dan sumber daya alam, mengurangi pemakaian plastik, menanam pohon, makan secukupnya, belanja sewajarnya, tidak ikut arus “budaya mudah membuang”.
Alangkah baiknya kalau dalam rangka menyambut Hari Pangan Sedunia 2015 setiap keluarga, komunitas, lingkungan atau lembaga-lembaga, bersama-sama  menjawab pertanyaan ini “Apa yang harus kita lakukan agar lingkungan hidup kita menjadi semakin manusiawi?”. Tindakan-tindakan kita sebagai wujud jawaban terhadap pertanyaan ini, sesederhana apa pun, akan menjadi berkat bagi bumi dan bagi kita semua. Upaya-upaya kecil itu menjadi bermakna karena dijiwai oleh iman, sehingga melalui gerakan itu pula iman kita bertumbuh dan berbuah. Dalam hal ini perlulah diingat bahwa Gereja bukan hanya sebuah organisasi. Gereja adalah gerakan iman dan cinta melalui aksi-aksi nyata yang terus berkelanjutan, baik yang dilakukan secara bersama maupun sendiri. Gerakan nyata itu tentu akan lebih bermakna jika didukung dan disatukan dengan doa. Karena itu, marilah kita memakai kesempatan bulan Rosario, bulan Oktober ini, untuk berdoa bersama dan seperti Maria, Bunda Gereja. Kita mohon agar kita mampu mencerna segala derita dunia dan tergerak melakukan sesuatu yang nyata.
Akhirnya,  bersama-sama dengan para imam, diakon dan semua pelayan umat, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada para Ibu/Bapak/Suster/Bruder/adik-adik kaum muda, remaja dan anak-anak semua yang dengan beraneka cara terlibat dalam karya perutusan Gereja Keuskupan Agung Jakarta. Melalui gerakan Hari Pangan Sedunia kali ini, kita diajak untuk semakin peduli menjaga bumi. Kita berharap bahwa gerakan bersama ini akan berbuah lebat melalui perubahan sikap dan perilaku kita. Salam dan Berkat Tuhan untuk Anda semua, keluarga dan komunitas Anda.
Mgr. Ignatius Suharyo — Uskup Agung Jakarta

PENDALAMAN REFLEKSI
Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut. Jawaban ditulis dikertas Folio. Dikumpulkan!
1.     Jelaskan alasan mengapa Gereja memperingati Hari pangan Sedunia!
2.     Jelaskan bukti bahwa Allah mencipta manusia tidak meninggalkan begitu saja melainkan setia menemani dan menguatkan manusia!
3.     Jelaskan mengapa dunia tempat tinggal kita ini disebut Rahim Bumi!
4.     Sebutkan apa saja keprihatinan Paus Fransiskus terhadap situasi bumi sekarang ini!
5.     Jelaskan apa yang menjadi penyebab dari kerusakan alam/bumi kita ini!
6.     Apakah arti kebijaksanaan menurut Mgr. Suharyo?
7.     Sebutkan hal-hal konkret yang dianjurkan oleh Paus sebagai keterlibatan kita dalam memelihara bumi!
8.     Tuliskan 2 hal konkret yang akan Anda lakukan agar lingkungan sekolah kita menjadi semakin manusiawi

Minggu, 29 November 2015

Rangkuman Materi Agama KelasXII Bab II: Memperjuangkan Nilai-Nilai Kehidupan Manusia


TUHAN, jadikanlah aku pembawa damai.
Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cinta kasih.
Bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampunan.
Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan.
Bila terjadi kesesatan, jadikanlah aku pembawa kebenaran.
Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kepastian.
Bila terjadi keputus-asaan, jadikanlah aku pembawa harapan.
Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang.
Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku pembawa sukacita.
Ya Tuhan Allah,
ajarlah aku untuk lebih suka menghibur daripada dihibur;
mengerti daripada dimengerti;
mengasihi daripada dikasihi;
sebab dengan memberi kita menerima;
dengan mengampuni kita diampuni,
dan dengan mati suci kita dilahirkan ke dalam Hidup Kekal.
Amin.
Doa dari Santo Fransiskus Asisi tersebut merupakan ajakan bagi kita semua untuk menjadi pembawa damai bagai sesama. Mengasihi sesama satu sama lain berarti menyertakan Allah dalam hidupnya, menyertakan Allah dalam hidupnya berarti mewujudkan keharmonisan, keindahan, sukacita kebahagiaan dan kedamaian untuk dirinya dan sesama.
Suka cita merupakan sikap “terima kasih” yang seutuhnya terhadap Allah karena dalam masa sulit dapat  merasakan kedamaian. Raihlah kedamaian dan suka cita dimulai dari diri sendiri dahulu demi mendapatkan Kasih Sejati Allah, ciptakan rasa bahagia mengiringi setiap langkah meniti hari demi hari menuju hari kemenangan. Jangan mengeluh atau berputus asa ketika ujian dan cobaan itu datang tetapi sikapi  ujian dan cobaan datang sebagai wujud kasih Allah menyertai agar manusia selalu mengingat-Nya berlapang hati dan bersikap rendah hati itu yang diinginkan Allah bagi mereka yang menerima ujian dan cobaan  seberat apapun bebannya jika diterima dengan hati lapang dan sikap rendah hati maka Allah akan memberikan rasa ringan dan damai dalam melalui masa sulitnya

A.    KEADILAN

Keadilan merupakan suatu kondisi yang didambakan setiap insan manusia. Adil berarti tidak berat sebelah, berpihak kepada yang benar atau berpegang pada kebenaran. Keadilan berarti memberikan kepada setiap orang apa yang menjadi haknya, baik itu hak asasi maupun hak sipil. De fakto, dalam kehidupan masyarakat, kita menemukan banyak praktek ketidakadilan, entah dari segi ekonomi, politik, hukum, sosial dan budaya. Semua tindakan itu menunjukkan bahwa masyarakat kita, sadar atau tidak , sering tidak menghormati hak milik orang lain. Contoh sederhana, misalnya kasus Nenek Minah warga Banyumas yang divonis bersalah karena mencuri 3 biji kakao milik PT. Rumpun Sari Antan, kasus Nenek Asiani warga Situbondo yang dituduh mencuri kayu, sementara penanganan kasus-kasus korupsi para pejabat pemerintahan terkesan lambat dan berbelit-belit. Inilah yang seringkali menjadi sindiran bahwa keadilan di negeri ini “tajam ke bawah tumpul ke atas”, artinya ketika mengadili masyarakat menengah ke bawah para “penegak” keadilan mudah menjatuhkan vonis/hukuman, sedang ketika menangani kasus-kasus pejabat/orang-orang menengah ke atas pengadilan terkesan lambat. Secara umum, ketidakadilan itu tampak nyata dalam bentuk-bentuk antaralain:
a.      Tindakan perampasan dan penggusuran hak-hak orang lain, pencurian, perampokan dan korupsi.
b.      Tindakan pemerasan dan rekayasa
c.      Sikap enggan membayar utang, termasuk kredit macet, yang berbuntut merugikan rakyat kecil.



B.     KEBENARAN
Kebenaran berarti suatu kondisi yang sesuai dengan hal yang sesungguhnya. Kebenaran juga berarti hal-hal yang sungguh-sungguh benar.  Karena itu kebenaran berkaitan erat dengan kejujuran. Orang jujur berarti orang bertindak atas dasar kebenaran.
Matius 5: 37
37Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jaha
Yohanes 8: 43-47
43Apakah sebabnya kamu tidak mengerti bahasa-Ku? Sebab kamu tidak dapat menangkap firman-Ku.
44Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta. 45Tetapi karena Aku mengatakan kebenaran kepadamu, kamu tidak percaya kepada-Ku. 46Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa? Apabila Aku mengatakan kebenaran, mengapakah kamu tidak percaya kepada-Ku? 47Barangsiapa berasal dari Allah, ia mendengarkan firman Allah; itulah sebabnya kamu tidak mendengarkannya, karena kamu tidak berasal dari Allah.

Dalam sabda Kitab Suci ditegaskan bahwa kebenaran tidak hanya berarti tidak berbohong, tetapi juga mengambil bagian dalam kehidupan Allah. Allah adalah “sumber kebenaran”, karena Allah selalu berbuat sesuai dengan janji-Nya. Maka Allah berfirman “Jangan bersaksi dusta”.


Dalam sejarah, Gereja mengalami berbagai pergulatan dan tantangan terutama dalam menjadi saksi kebenaran iman. Fakta munculnya perpecahan dalam Gereja Katolik membuktikan adanya pergulatan tersebut. Salah satu perpecahan yang terjadi adalahketikaRaja Henry VIII dari Inggris memisahkan seluruhgereja-gereja dikerajaannya dari persekutuan dengan Paus (Gereja Katholik Roma). Masalahnya, karena permintaannya untuk menikah kembali sementara istrinya masih hidup ditolak oleh Paus. Kelompok gereja inilah yang dikenal sebagai Gereja Anglikan. Keputusan Raja Henry tersebut ditentang oleh warganya termasuk Perdana Menterinya sendiri Thomas More. Namun Raja Henry justru menangkap dan memenjarakan orang-orang yang menentangnya. Bahkan Thomas More akhirnya dihukum pancung.  Thomas More menjadi teladan iman, bersaksi tentang kebenaran walaupun harus kehilangan nyawanya

Kamis, 26 November 2015

Rangkuman MAteri Agama Kelas XII Bab ID-E: Panggilan Hidup Membiara dan Panggilan Profesi

PANGGILAN HIDUP MEMBIARA

Dalam kehidupan umat beragama katolik diakui dan diyakini bahwa hidup membiara merupakan panggilan hidup. Hidup membiara merupakan salah satu bentuk hidup selibat (tidak menikah) yang dijalani oleh mereka yang dipanggil untuk mengikuti Kristus secara tuntas/total. Dengan kata lain orang yang menjalani hidup selibat adalah orang yang terpanggil untuk mempersembahkan hidupnya kepada Tuhan. Menjadi seorang Pastor, Suster, atau Bruder merupakan jawaban atas panggilan Tuhan untuk melayani dan menguduskan dunia. Contoh sederhana dapat kita lihat dalam lingkungan sekolah kita. Sekolah kita berlindung pada seorang tokoh bernama Santa Theresia, seorang suster yang dilahirkan di kota Alencon, Perancis pada 2 Januari 1873. Teladan hidupnya berupa kesederhanaan dan CINTA menjadikan kehidupan santa Theresia menjadi bermakna dan berkat bagi orang lain. Dalam menjalankan misi pelayanan pendidikan, sekolah-sekolah Theresiana juga dipimpin oleh seorang pastor yaitu Rm. Dr. Materius Kristiyanto, Pr sebagai Direktur dan Rm. Marcellinus Roselawanto, Pr sebagai Wakil Direktur. Mereka adalah para pastor milik Keuskupan Agung Semarang yang diberi tugas khusus oleh Bapa Uskup untuk mengelola pendidikan. Mereka menjalani hidup selibat (tidak menikah), serta menghayati tiga nasihat Injil yaitu kemurnian, ketaatan dan kemiskinan.
Hidup membiara ditandai dengan pengucapan kaul (janji setia), yaitu kaul kemiskinan, kaul kemurnian dan kaul ketaatan. Dengan mengucapkan kaul kemiskinan, orang yang hidup membiara melepaskan haknya untuk memiliki harta benda duniawi. Dengan cara ini mereka lebih bisa memusatkan hidupnya semata-mata demi melayani Tuhan dan tidak lekat pada harta benda duniawi. Hal ini bukan berarti mereka tidak boleh menggunakan/memiliki harta benda duniawi, tetapi menggunakan sewajarnya demi mendukung pelayanannya. Dengan kaul ketaatan, seorang yang hidup membiara memutuskan untuk taat seperti Kristus yang taat pada kehendak Bapa-Nya. Ketaatan ini diwujudkan dengan melepaskan kemerdekaannya, kehendak bebasnya dan mengikuti kehendak pimpinan/pembesar dalam konggregasi. Dengan kaul kemurnian orang yang hidup membiara melepaskan haknya untuk hidup berkeluarga. Melalui hidup selibat (tidak menikah), mereka mengungkapkan kesediaan untuk mengikuti dan meneladan Kristus sepenuhnya serta membaktikan hidupnya secara total demi terlaksananya Kerajaan Allah.


PANGGILAN KARYA/PROFESI

Manusia adalah mahkluk pekerja. Tanpa bekerja manusia kehilangan jati dirinya sebagai manusia. Maka apapun pekerjaan manusia, asalkan halal, orang akan merasa dirinya bernilai dihadapan sesamanya. Sebaliknya orang-orang yang berada di usia produktif namun tidak bekerja akan merasa rendah diri dalam pergaulan masyarakat. Dalam ajaran agama Katolik, manusia diciptakan oleh Allah  dan diberi mandat untuk mengelola bumi. Dengan ini, hendaknya manusia menyadari, ketika ia melakukan pekerjaan, ia berpartisipasi dalam pekerjaan Tuhan. Itu berarti bahwa pekerjaan manusia mengambil bagian dalam karya keselamatan Allah.
Arti Kerja:
Kerja adalah setiap kegiatan manusia yang diarahkan untuk kemajuan manusia, baik kemajuan jasmani maupun rohani. Kerja memerlukan suatu pemikiran. Kerja dengan sadar harus diarahkan kepada suatu tujuan tertentu. Pekerjaan merupakan suatu keistimewaan mahkluk yang berakal budi. Sebab, hanya manusialah yang dengan sadar dan bebas dapat mengarahkan kegiatannya kepada suatu tujuan tertentu.
Makna Kerja:
Makna ekonomis, bekerja dipandang sebagai pengerahan tenaga untuk menghasilkan sesuatu yang diperlukan atau diinginkan seseorang atau masyarakat. Dalam hal ini dibedakan menjadi pekerjaan produktif (pertanian, pertukangan, pabrik, dsb), pekerjaan distributive (perdagangan), dan pekerjaan jasa (guru, dokter, perawat, dsb).  Makna sosiologis, kerja merupakan pemenuhan kebutuhan masyarakat dan sarana interaksi antar masyarakat. Makna antropologis, kerja memungkinkan manusia untuk membina dan membentuk diri dan pribadinya. 



Selasa, 17 November 2015

Rangkuman Agama Kelas XII Bab 1D: Tantangan Hidup Berkeluarga

PERSOALAN DAN TANTANGAN HIDUP BERKELUARGA


Hidup berkeluarga di jaman modern ini mengalami berbagai tantangan yang semakin kompleks. Tantangan yang paling dirasakan justru muncul dari dasar perkawinan itu sendiri yaitu KOMUNIKASI. Menurut para tokoh pemerhati keluarga, komunikasi dalam keluarga/kehidupan rumah tangga, antara suami-istri dan anak-anak semakin berkurang karena kesibukan pekerjaan, dan terpisah oleh tempat yang jauh. 
Dalam era globalisasi dan modernisasi yang kian marak ini membawah pengaruh dan dampak baik yang positif maupun yang negatif dalam kehidupan keluarga-keluarga kristiani. Kehidupan keluarga tidak bisa lepas dari pengaruh nilai-nilai yang muncul dan yang dihidupinya.
Ada beberapa tantangan dan keperihatinan yang sedang terjadi saat ini:
1.      Persoalan tentang Kontrasepsi, Aborsi, dan Sterilisasi
Pemerintah mempromosikan adanya program Keluarga Berencana (KB) dengan tujuan tercapainya kesejahteraan dalam keluarga. Dengan program KB, kesehatan ibu dapat lebih dijamin, relasi suami istri semakin kaya, taraf hidup lebih ditingkatkan, pendidikan anak lebih terjamin dan tercapainya kesejahteraan masyarakat secara umum.
Gereja Katolik memandang program Keluarga Berencana (KB) dapat diterima. Namun, cara melaksanakannya harus diserahkan sepenuhnya kepada tanggung jawab suami-istri, dengan mengindahkan kesejahteraan keluarga. Gereja Katolik menyatakan bahwa KB pertama-tama harus dipahami sebagai sikap tanggung jawab. Pelaksanaan pengaturan kelahiran harus selalu memperhatikan harkat dan martabat manusia serta mengindahkan nilai-nilai agama dan social budaya yang berlaku dalam masyarakat. Keluarga katolik harus memperhatikan dan memahami penggunaan serta cara kerja alat-alat yang digunakan dalam program KB. Misalnya alat-alat kontrasepsi seperti kondom, suntik, pil KB dan IUD (spiral), harus benar-benar dipahami cara kerja dan efek dan penggunaan alat tersebut.
”Sejauh ini Gereja Katolik menganjurkan umat melaksanakan program KB dengan cara pantang berkala (tidak melakukan persetubuhan saat masa subur) atau sering disebut pula dengan istilah KB Alamiah. Dengan menerapkan KB Alamiah, pasangan diharapkan untuk dapat lebih saling mengasihi dan memperhatikan. Pantang berkala pada masa subur istri dapat diisi dengan mewujudkan kasih dengan cara yang lebih sederhana dan bervariasi. Suami lebih mengenal istri dan peduli akan kesehatan istri.
2.      Rapuhnya nilai kesetiaan dari perkawinan katolik.
Di abad yang serba praktis ini dengan arus hidup yang hedonisme, konsumeris, materialis ada sebagian kelurga kristiani yang mengalami persoalan di dalam menghayati nilai- nilai dasar perkawinan katolik. Ini berkaitan dengan penghayatan terhadap nilai monogami (kesatuan) perkawinan dan kesetiaan yang utuh terhadap pasangan hidup. Misalnya adanya perselingkuhan, praktek poligami bahkan sampai pada keputusan untuk berpisah ketika suasana kelurga tidak harmonis.
3.      Kemerosotan nilai-nilai penghayatan religius dalam keluarga,
Arus hedonis, konsumerisme, dan materialis membawah dampak yang luar biasa bagi penanaman dan penghayatan nilai-nilai religiusitas di dalam keluarga. Irama hidup keluarga hanya disibukan dengan kegiatan yang jauh dari dari hal-hal rohani. Misalnya menonton TV dan VCD, bermain HP, game online, dsb. Sehingga aktivitas rohani berupa doa pribadi, doa bersama, dan sharing masalah iman dalam keluarga sering terabaikan
4.      Tantangan dari lingkungan keluarga
Tantangan-tantangan yang ada dihadapan keluarga tidak hanya berasal dari masyarakat luas melainkan juga dari lingkungan keluarga sendiri, baik dari keluarga besar maupun keluarga inti. Yang di maksud keluarga besar adalah suami-istri dan sanak saudara dari suami maupun dari istri di mana pun mereka berada. Sedangkan keluarga inti adalah suami-istri dan anak-anak. Contoh tantangan dari dalam keluarga inti;
a. kurangnya transparansi antara suami dan istri,
b.kurangnya kerukunan antara suami dan istri
c.kurangnya komunikasi antara suami dan istri
d.kurangnya kesetiaan suami dan istri
e.adanya kecemburuan dari suami atau istri
f.adanya dominasi suami atau istri atas pasanganya.
g.adanya tindakan kekerasan dalam rumah tangga

5.      Beban ekonomi biaya tinggi yang harus di hadapi oleh keluarga- keluarga moderen dewasa ini
Globalisasi yang kuat ditandai dengan sistim persaingan kekuatan- kekuatan ekonomi antar Negara dengan sistim pasar bebasnya yang membawah dampak dalam kehidupan social, ekonomi keluarga dewasa ini. Hal ini harus membuat keluarga hidup dengan biaya ekonomi tinggi. Ekonimi biaya tinggi ini terjadi di segala sector: baik kebutuhan pokok, pelayanan jasa transportasi, pendidikan maupun berbagai pelayanan public. Ekonomi dengan biaya tinggi sering menimbulkan tekanan baik psikis maupun fisik yang bisa menjadi sumber kekerasan dalam rumah tangga.

Dalam menghadapi tantangan dan keperihatinan aktual saat ini, gereja mempunyai beberapa harapan-harapan terhadap keluarga- keluarga kristiani, antara lain:
1. Keluarga yang mau di bangun harus dipersiapkan dengan baik.
Maksudnya bahwa ada persiapan menjelang perkawinan yaitu:
a.      Persiapan Jauh. Persiapan sejak masa kanak-kanak terutama dengan pendidikan nilai, baik nilai manusiawi maupun nilai-nilai kristiani pada khususnya.
b.      Persiapan dekat. Hidup keluarga hendaknya disiapkan secara intensif sejak masa pacaran. Pemuda dan pemudi yang dalam tahap pacaran harus di dampingi secara bijaksana agar mereka dapat berpacaran dengan sehat. Hendaknya dalam masa pacaran mereka diharapakan lebih mengenal dengan baik keperibadian dari dari pasanganya masing-masing.
c.      Persiapan akhir. Beberapa bulan menjelang pernikahan calon pengantin disiapkan secara lebih intensif lewat kursus persiapan perkawinan, penyelidikan kanonik dan pengumuman nikah.
2. Keluarga didasarkan pada perkawinan yang sah 
Hal ini antara lain berarti: bahwa ke dua mempelai harus mengawali hidup berkeluarga mereka dengan upacara peneguhan perkawinan sesuai dengan hukum gereja, seperti termuat dalam kitab hukum kanonik dari kanon 1108- 1123.
3. Keluarga menjadi komunitas hidup dan kasih
Gereja berharap bahwa keluarga menjadi komunitas kehidupan dan kasih yang ditandai oleh sikap hormat dan syukur terhadap anuhgerah kehidupan serta kasih dari semua anggotanya.
Harapan gereja ini antara lain terungkap dalam konstitusi pastoral konsili vatikan ke II yakni “gaudium et spes 48” dan seruan apostolic paus Yohanes Paulus ke II  yang berjudul” familiaris consortio 17-41”.

Sumber:
1.      Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti SMA/SMK Kelas XII, Buku Guru, 2015
2.      Br. Urbanus, Msf.S.Ag dalam msfmusafir.wordpress.com/2009/02/27/tantangan-dan-keperihatinan-yang-aktual-dalam-hidup-keluarga.
3. http://bidan-raka.blogspot.co.id/2010/06/kb-dalam-pandangan-gereja-katolik.html